Bercerita pada media diam yang jarang terjamah orang menjadikan batin semakin leluasa berekspresi.
Jumat, 04 Oktober 2013
Mutiara Papua
Suara tepuk tangan dan nyanyian riang, tak pernah lelah membangkitkan semangat mereka. Ranah papua yang asri berselimut damainya suasana pepohonan menjulang diantara sudut kesunyian. disini jarang terdengar suara deru kendaraan bermotor berlalu lalang. yang terkutip hanyalah suara kicauan burung serta ranting-ranting kayu usil melambai kesana kemari.
pagi ini bersama lencana merah putih yang melekat di tubuh mereka, seperti emas yang mahal harganya. kemudian tambahan dasi yang terlipat rapi melingkar diantara kancing baju yang terikat, seolah memperlihatkan bahwa mereka adalah calon generasi kantoran yang sukses.
mimpi mereka berada di ujung tepian jurang yang curam. setiap hari harus menyisihkan beberapa jam untuk melangkahkan kaki mungilnya menuju ke sekolah.
bersahabat dengan jalanan yang becek, berlumpur, serta naik turun merupakan hal yang biasa. belum lagi menyebrangi sungai yang arusnya meliuk-liuk tak berarah. semua itu hanya sepenggal cerita yang terpampang, perjuangan yang lain masih begitu abstrak untuk di ketahui orang.
Kucuran keringat untuk mencapai sebuah bangunan sekolah yang sudah hampir roboh dimakan usia, memanglah harga mati. namun mereka tak mengeluh. papan tulis yang masih menggunakan kapur terkadang membuat pemandangan di kelas terlihat acak-acakan. lalu buku-buku mata pelajaran yang hampir tak pernah lengkap, masih sanggup menyuntikkan semangat untuk menuntut ilmu. namun tetap saja kualitas mutiara papua ini tak bisa di ragukan.
Bandingkan dengan anak-anak yang terlalu dimanja. bersekolah di tempat yang elite dan hanya bisa merengek pada orang tua sebab tak selalu mampu menghadapi getir-getirnya kehidupan.
mereka di beri fasilitas serba lengkap bahkan mubadzir terlalu bermewahan, tetapi tetap saja dungu tak bisa memanfaatkannya. bahkan diriku termasuk orang yang mudah lengah di giurkan surganya metropolitan. anak usia dini di kota megah seperti ini sudah tak berminat untuk menyentuh buku pelajaran. mereka sudah repot membicarakan smartphone keluaran terbaru. atau sibuk mengikuti alur cerita remaja yang tak sewajarnya di aplikasikan pada usia mereka.
pacaran !
anak kecil bau kencur zaman sekarang sudah mengerti tentang kata "cinta". hal ini notabene terjadi pada garis-garis kota yang sudah curam tergerus arus globalisasi. mereka tak sadar bahwa ada saudaranya yang tengah mati-matian mewujudkan mimpi negerinya.
ambil contoh kecilnya saja. Mutiara papua yang berkilauan ini harus tertutupi oleh tingginya ilalang yang membuat mata semua orang kabur memperhatikannya. semangat belajar yang 180 derajat berbeda dari anak metropolitan harus di bayar dengan tidak tersedianya fasilitas pembelajaran yang lengkap. andai mutiara papua ini tahu bahwa buku-buku di perpustakaan kota sudah banyak yang lapuk di makan rayap karena terlalu lama berdebu tak ada yang menjamahnya. kalau hal seperti ini terus terjadi, lalu buat apa pemerintah terlalu sibuk mengadakan pembangunan disana sini ?
sekadar lebih mempercantik fasilitas agar bisa di sebut kota modern.
andai semua anggaran itu di limpahkan untuk pembangunan di papua mungkin ujung timur Indoesia yang satu ini akan semakin berkilau. apalagi daerah perbatasan merupakan jalur terbaik untuk memikat mata dunia.
ingatlah negara kita itu satu. sejujurnya aku sudah merasa sesak berada di kota yang terlalu sibuk beradu gengsi ini. mereka tak mau tahu ada banyak ketertinggalan yang terjadi di sekitarnya. mereka jarang bersyukur dan yang paling penting adalah
terlalu sibuk berargumen politik ini itu tapi tak bermanfaat bagi saudara-saudara sebangsa yang membutuhkan. kalau daerah-daerah itu sudah di caplok negara tetangga, apa yang bisa kita perbuat ? rasanya fasilitas di negeri tetangga super menjanjikan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar