Aku begitu terkesima melihat sosok pemuda ini. Seseorang yang selalu ku anggap paling tangguh diantara jajaran orang yang pernah ku kenal. ia berani bermimpi di atas jemari yang terus mengepal membumbung tinggi. aku tahu kala itu, saat teman sebayanya tengah berbangga karena masuk ke dalam salah satu murid berprestasi. dimana sentuhan beasiswa di sebuah universitas negeri amatlah menggiurkan. Tak menutup mata dan pikiran, ia sebenarnya termasuk dalam pemuda yang aktif. bercengkrama dengan organisasi sekolah, maupun organisasi berbasis lingkungan. hingga suatu hari dimana ketika ambisi itu datang. ku saksikan sendiri, ia tak pernah ragu meniti jalan setapak menuju mimpinya itu. kala itu kami tengah menuntut ilmu tambahan di sebuah institusi yang sama. sebuah lembaga bimbingan belajar yang siap membantu mewujudkan segala keinginan kami. aku yang awalnya sudah terlebih dahulu mendapatkan gerbang emas, rupanya membuatku agak sedikit santai meniti masa depan. tak ada rasa bingung yang menghampiri waktu itu. deretan kata yang tersusun dalam hati hanyalah suatu keberuntungan, esok aku tak akan bersusah payah merengkuh bangku kuliah.
Takdir tak selamanya berucap manis. sia-sia itu pasti akan menyemai benih kenestapaan dalam hati. sebuah pemberitahuan berisi pesan singkat bahwa diri ini tak lolos seleksi masuk, membuat tubuh terasa jadi melompong. sirna sudah seketika harapan dan untaian angan yang telah ku rajut sejauh ini.
sungguh Tuhan kala itu masih menyuntikkan semanagat bagi diri yang telah sempoyongan tertunduk lesu. di sela-sela jam belajar yang super padat melebihi ambang batas. ku menyaksikanmu masih minta untuk mentoring hingga mentari telah lama kembali ke peraduannya. tak pernah terbesit dalam benakmu yang sudah jelas seharusnya akan terbaca raut muka putus asa. namun yang kau hadirkan adalah sebuah perjuangan menggapai mimpi secara nyata. melewati jalan tersulit sekalipun.
di situlah ku membuka jalan pemikiranku yang serba buntu itu. berbekal lembaran buku-buku yang tebal tak terhitung jumlah halamannya. otakku berusaha menangkap daya ingat yang hadir. rangkaian kata berisi materi menjamah bergelayutan jadi satu. aku berusaha menyetarakan mimpi dengannya. dan suatu ketika sebuah senyum tipis ikut membasahi bibirku. ia lebih dahulu di terima di sebuah universitas idamannya. berkat tes seleksi yang di ikuti hampir jutaan pemuda di Indonesia. dan ia masuk menjadi salah satu yang terbaik. aku tak kunjung berhenti berharap. sungguh diri begitu mencari setitik kata semangat. dua kali tak lolos seleksi masuk membuat dada cukup kembang kempis. rasanya semua dunia ini ikut padam jika aku tak dapat melanjutkan ke jenjang bangku perguruan tinggi tahun ini. namun syukur, ku berhasil mengenakan sebuah almamater kebanggan semua orang. aku berhasil di terima di sebuah universitas yang semula bukanlah tujuanku. namun tak apalah terhitung ia juga berstatus negeri dan banyak mencetak lulusan terbaik.
seketika waktu terus bergulir dan aku menyaksikan ia tumbuh menjadi seorang yang berbeda dan aku cukup bangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar