Dunia selalu gelap. Tanpa setitik cahaya mentari yang mau menyambut, karena seisi langit sudah dihiasi bintang-bintang. Rembulan hanya mampu bersua dengan semampunya saja sehingga angin terlalu bebas menyapa, membuat dingin sekujur tubuh.
Terlihat lampion-lampion menghiasi gedung pencakar langit, serasa ikut bercengkrama menunggu malam semakin larut.
Merah jambu telah membingkai hati untuk malam yang berisik ini. Setengah hari terlalu abu-abu hingga akhirnya bisa merasakan ada cahaya dalam hati. Seisi ruang yang tertutup rapat, gelap, pekat, penuh ilusi, bercecernya memori, sesak akan masa depan menumbuk jadi satu. Akan tetapi semua telah luluh dalam hitungan detik, saat sebuah lambang menyerupai daun pohon waru mulai menyemai jiwa. Lalu denyut nadi mulai berbeda. Jantung berdegup kencang mencoba membaur dengan situasi.
Pikiran berubah dalam sekejap kedipan mata. membius semua hal yang berakar dari orang itu. Ruangan itu mulai terisi rintikan cahaya usil yang membuat nafas ini kembang kempis. Kenyataan telah hadir membungkam semuanya. Bahkan bagi manusia sekeras batu pun akan tergerus dalam terangnya suasana. Semua terjadi saat cinta hadir menyambangi hidup.
Dunia gelap karena orang tak mau melihat dengan hati. Semua butuh cinta dan kasih sayang, bukan materi yang meredupkan kepekaan hati. Harga kebahagiaan jiwa untuk sesama lebih mahal dari sebuah cek bertuliskan angka “triliun”. Sudah fitrahnya sebagai manusia yang harus mampu memilah hidup dalam kecupan manis pahitnya merah jambu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar