Mata langit
kala itu berkaca
Membasuh
secawan dendam pada hidup
Ia yang kala
itu masih berusia tunas
Dan masih
menginginkan nyanyian nina bobo
Namun padang
rembulan sudah membisu
Tak ada sapa
lagi baginya yang tengah rindu
Matanya
hanya menangkap sepasang bayangan tua
Begitu
seterusnya hidup berjalan meniti tujuannya
Pernah kala
itu ia bergeming
Mengadu akan
rasa iri pada kawan sebayanya
Mengapa pada
hari sakral diantara jenjang sekolah
Tak jua ada
seruan kata bangga membanjiri ruang itu
Atau sekadar
tepuk tangan yang saling bersahutan
Sesaat di
waktu yang teramat rumit itu
Bait-bait
jiwanya mulai belajar akan arti bersabar
Tatkala hal
itu berulang menggulung jengkal mimpinya
Sudah sekian
lama ia menabung
Menabung
akan masa dimana ia dapat bercengkrama
Lalu
kebersamaan itu terbingkai rapi
Menghiasi wajah dinding rumahnya
Seutas
harapan terus bersemi
pada esok
nanti angannya akan bernyawa
sungguh
sayang, belum sampai separuh usia
sang Empunya
hidup mengubah skenario
ia tak akan
bisa lagi memaksa keadaan
sebatas agar
senyum diantara celah bibir mereka
mengembang
seraya di sapa acungan jempol
tak akan ada
hiasan bingkai berisi empat kepala
mencoret
wajah dinding kumal itu
baju bekas
jenjang tertinggi ini
harus siap
bersaksi bisu
memotret senyum
akan sebuah keberhasilan
walau yang
tersisa kini hanya bertiga
dan diantara
dirinya
adalah ciptaan setengah tulang rusuk
tetap saja
hati juga berkecambuk sendiri
dari batas
usia dini hingga kini
tak pernah
ada sumbangsih keringat tubuhnya
yang mampu
membidik kagum pada wajah kekar itu
sungguh
menyesal pula
ia tak dapat
mendekap seribu kenangan terakhir
yang harus
terbatasi antara tanah dan udara
taman
kamboja hanya menyorot sayu
ia
membiarkan agar jiwa itu di terjaga
biarkan
wewangi beraroma kenestapaan
tetap
membungkus batas kenangan
hingga lelaki
itu kembali dan menyapa dirinya
diantara
rinai hujan
dan diantara
perbatasan langit dan bumi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar