Kamis, 06 Maret 2014

Batas Kenangan




Mata langit kala itu berkaca
Membasuh secawan dendam pada hidup
Ia yang kala itu masih berusia tunas
Dan masih menginginkan nyanyian nina bobo
Namun padang rembulan sudah membisu
Tak ada sapa lagi baginya yang tengah rindu
Matanya hanya menangkap sepasang bayangan tua
Begitu seterusnya hidup berjalan meniti tujuannya
Pernah kala itu ia bergeming
Mengadu akan rasa iri pada kawan sebayanya
Mengapa pada hari sakral diantara jenjang sekolah
Tak jua ada seruan kata bangga membanjiri ruang itu
Atau sekadar tepuk tangan yang saling bersahutan
Sesaat di waktu yang teramat rumit itu
Bait-bait jiwanya mulai belajar akan arti bersabar
Tatkala hal itu berulang menggulung jengkal mimpinya
Sudah sekian lama ia menabung
Menabung akan masa dimana ia dapat bercengkrama
Lalu kebersamaan itu terbingkai rapi
Menghiasi  wajah dinding rumahnya
Seutas harapan terus bersemi
pada esok nanti angannya akan bernyawa
sungguh sayang,  belum sampai separuh usia
sang Empunya hidup mengubah skenario
ia tak akan bisa lagi memaksa keadaan
sebatas agar senyum diantara celah bibir mereka
mengembang seraya di sapa acungan jempol
tak akan ada hiasan bingkai berisi empat kepala
mencoret wajah dinding kumal itu
baju bekas jenjang tertinggi ini
harus siap bersaksi bisu
memotret senyum akan sebuah keberhasilan
walau yang tersisa kini hanya bertiga
dan diantara dirinya
 adalah ciptaan setengah tulang rusuk
tetap saja hati juga berkecambuk sendiri
dari batas usia dini hingga kini
tak pernah ada sumbangsih keringat tubuhnya
yang mampu membidik kagum pada wajah kekar itu
sungguh menyesal pula
ia tak dapat mendekap seribu kenangan terakhir
yang harus terbatasi antara tanah dan udara
taman kamboja hanya menyorot sayu
ia membiarkan agar jiwa itu di terjaga
biarkan wewangi beraroma kenestapaan
tetap membungkus batas kenangan
hingga lelaki itu kembali dan menyapa dirinya
diantara rinai hujan
dan diantara perbatasan langit dan bumi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar