Kepada
sang gadis kurcaci yang tak pernah di sapa mentari. Ia mengikuti jejak setapak
angin menyusuri mejikuhibiniu di sebuah tempat yang begitu asing. Nada-nada
berbeda mulai bercengkrama seolah ingin menikamnya ataupun mengajaknya
berkawan. Tapi tatkala ia tetap murung tertunduk pada sebuah tempurung
kesendirian. Dunianya begitu sempit terbatas sekat jerami yang mengelilingi
pandangannya. Di antara kantong bercorak canting malam yang mengotorinya, tak
terdengar kawanan recehan yang dapat mengadu bunyi antara satu dengan yang
lain, sebab tangan mungilnya memang bagai parasit semu. Ia kali ini harus puas
menata air mata akan diri yang kian membatu tak berguna. Dari rangkaian sajak
naskah ilmu-ilmu itu ia pelajari, saat di kala itu usianya begitu berkecambah
makin tumbuh dan berkembang. Tak ada rasanya manfaat itu benar-benar menjuntai
meluruskan garis hidupnya yang kian curam. Semua terasa bagai hidup amatir,
lontang-lantung menjelujuri fantasi yang kini hanya bisa menemani daya
pikirnya. Sekalipun jemarinya pula pandai mengotak-atik kata ia hanya menggumam
bercerita pada lajur hati kecilnya. Supaya cerita itu musnah tanpa berpindah
posisi terekam pada memori otak yang lain. Suatu ketika ia mulai mengenal akan
rasa yang dipandang sebagai fitrahnya seorang manusia. Ia karam pada pelupuk
mata yang kian menciutkan hatinya, atau pada seikat nafas yang kian kembang
kempis berlari-lari ingin mendahului suara denyut nadi yang juga terburu-buru
membius waktu. Saat itulah ia menyentuh akan bunga mawar mulai menebar wewangi
yang kian memikat senja. Namun belum lama itu terjadi, pola pikir sibuk bermain
dengan kasta akan masa depan yang telah terimpikan. Akankah pujangga itu mau
mempertahankan seruan ikrar yang terlanjur terucap. Padahal diantara ufuk barat
dan ufuk timur serta pada perbatasan rinai hujan antara pagi dan malam, masih
ku dapati tumpukan pesona yang lebih menawan, bergelimang kepingan emas warisan
dari tetuahnya. Di penghujung itulah ia mulai ketakutan sendiri, memikirkan asa
yang segera terenggut jika kenyataan dapat membisukan mata hati. Ia juga butuh
akan kawan berbagi cerita, untuk mengupas linangan air mata supaya nestapa tak
selalu merasuki hidup. Benarkah ia patut merasakan dan mendapatkannya. Tuhan
mendengarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar