Senin, 10 Maret 2014

ia



                Kepada sang gadis kurcaci yang tak pernah di sapa mentari. Ia mengikuti jejak setapak angin menyusuri mejikuhibiniu di sebuah tempat yang begitu asing. Nada-nada berbeda mulai bercengkrama seolah ingin menikamnya ataupun mengajaknya berkawan. Tapi tatkala ia tetap murung tertunduk pada sebuah tempurung kesendirian. Dunianya begitu sempit terbatas sekat jerami yang mengelilingi pandangannya. Di antara kantong bercorak canting malam yang mengotorinya, tak terdengar kawanan recehan yang dapat mengadu bunyi antara satu dengan yang lain, sebab tangan mungilnya memang bagai parasit semu. Ia kali ini harus puas menata air mata akan diri yang kian membatu tak berguna. Dari rangkaian sajak naskah ilmu-ilmu itu ia pelajari, saat di kala itu usianya begitu berkecambah makin tumbuh dan berkembang. Tak ada rasanya manfaat itu benar-benar menjuntai meluruskan garis hidupnya yang kian curam. Semua terasa bagai hidup amatir, lontang-lantung menjelujuri fantasi yang kini hanya bisa menemani daya pikirnya. Sekalipun jemarinya pula pandai mengotak-atik kata ia hanya menggumam bercerita pada lajur hati kecilnya. Supaya cerita itu musnah tanpa berpindah posisi terekam pada memori otak yang lain. Suatu ketika ia mulai mengenal akan rasa yang dipandang sebagai fitrahnya seorang manusia. Ia karam pada pelupuk mata yang kian menciutkan hatinya, atau pada seikat nafas yang kian kembang kempis berlari-lari ingin mendahului suara denyut nadi yang juga terburu-buru membius waktu. Saat itulah ia menyentuh akan bunga mawar mulai menebar wewangi yang kian memikat senja. Namun belum lama itu terjadi, pola pikir sibuk bermain dengan kasta akan masa depan yang telah terimpikan. Akankah pujangga itu mau mempertahankan seruan ikrar yang terlanjur terucap. Padahal diantara ufuk barat dan ufuk timur serta pada perbatasan rinai hujan antara pagi dan malam, masih ku dapati tumpukan pesona yang lebih menawan, bergelimang kepingan emas warisan dari tetuahnya. Di penghujung itulah ia mulai ketakutan sendiri, memikirkan asa yang segera terenggut jika kenyataan dapat membisukan mata hati. Ia juga butuh akan kawan berbagi cerita, untuk mengupas linangan air mata supaya nestapa tak selalu merasuki hidup. Benarkah ia patut merasakan dan mendapatkannya. Tuhan mendengarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar