Dari hembusan angin di tanah
jawa
Menceritakan secerca kebahagiaan
Kepada semua telinga rumpun
guyub pedesaan
Kerangka tulang berbalut daging
menghentak bumi
Dirinya telah hadir
Menyerukan nada sedikit
terisak-isak
Kala itu dua permadani menuai
kebahagiaan
Dalam riangnya senda gurau
kenyataan
Dia si wanita dengan jemarinya
merangkul
Lalu tubuh mungil itu di
bopongnya
Sambil menggodanya
Dan mengajak bercerita dalam
bahasa bisu
Lalu lelaki di sebelahnya itu
Hanya bergurau dengan raut hati
yang muram
Jiwa yang diinginkannya itu
Ternyata alot di kabulkan sang
Ilahi
Kini memang benar gadis mungil
itu akan tumbuh
Menjadi jiwa harum
Peneguh kehormatan keluarga ini
Membubuhi dengan setiap tingkah
lakunya
Namun kehadirannya lagi-lagi
diremehkan
Duh nasib gadis ilalang usang
Yang terus tumbuh meninggi
Tapi kehadirannya hanya
dibutuhkan saat mereka susah
Oh jiwa kau jangan payah !
Sabar dan melebur dengan apa
yang terjadi
Semoga itu sudah cukup ampuh
Merenggut omongan licik tak
memikirkan hati
Anak wanita juga ingin di
hormati
Tak dicaci dengan rasa welas
asih
Ayah mohon tegur hatimu
Aku juga mampu merajut asa
seperti inginmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar