Kamis, 29 Agustus 2013

Pujangga Senja



 
Lingkaran pena memutari seisi kertas itu
Lalu tergores semburat indah
Tak sedikit berwarna hanya putih bertumpuk hitam
Jemarinya lincah menarik ulang kata

Urat dahinya mengerut ke atas
Mencerna setiap nada kalimatnya
Bersua sejenak menemani senja
Melirik eloknya ufuk barat

Pancaran jingga berseleret merah
Menyorot kulitnya dengan sentuhan hangat
Dirinya tetap tak bergeming
Masih saja bisu menikmati tudung awan sendu

Pikirannya melaju kencang
Merangkai kata beraroma puitis
yang tengah bersembunyi di balik sisi otak buntunya
menjejali diri dengan kegirangan sendiri

ya hari ini tak seburuk kemarin katanya
akhirnya selesailah tulisan itu
sepucuk kertas yang di genggamnya
tak terjamah oleh siapapun

rindunya pada gadis itu
yang hanya di sapa lewat bunga mimpi
apadaya, pujangga senja hanya tersipu dalam diam
bergumam riang dalam hati mengagumi sosoknya




Tidak ada komentar:

Posting Komentar