Lingkaran pena memutari seisi
kertas itu
Lalu tergores semburat indah
Tak sedikit berwarna hanya putih
bertumpuk hitam
Jemarinya lincah menarik ulang
kata
Urat dahinya mengerut ke atas
Mencerna setiap nada kalimatnya
Bersua sejenak menemani senja
Melirik eloknya ufuk barat
Pancaran jingga berseleret merah
Menyorot kulitnya dengan
sentuhan hangat
Dirinya tetap tak bergeming
Masih saja bisu menikmati tudung
awan sendu
Pikirannya melaju kencang
Merangkai kata beraroma puitis
yang tengah bersembunyi di balik
sisi otak buntunya
menjejali diri dengan kegirangan
sendiri
ya hari ini tak seburuk kemarin
katanya
akhirnya selesailah tulisan itu
sepucuk kertas yang di
genggamnya
tak terjamah oleh siapapun
rindunya pada gadis itu
yang hanya di sapa lewat bunga
mimpi
apadaya, pujangga senja hanya
tersipu dalam diam
bergumam riang dalam hati
mengagumi sosoknya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar