Dalam
pijakan hangat remah tanah berhamburan
Padang
pasir kelabu yang tak menyertainya
Jiwa
dari sebenih bibit yang hadir
Memasuki
ruang gerak kehidupan
Jemari
sendu diiringi detak jantung
Mereka
mnyaksikan dalam tangis risau
Semua
mata memuji
Jamuan
doa tiada tara mengalir
Menyelimuti
tubuh mungil tak berdaya
Namun
kala sang mentari murka
Bersama
amuk sang papa
Menusukkan
duri diantara batin
Celah
hati dan sebatas mimpi itu rusak
Rasanya
dunia gelap
Seperti
tanpa pengharapan
Kehadirannya
membawa bala nestapa
Hingga
semua tulang telah membaur
Sikap
dan pemikiran menyatu
Alam
berbisik lirih mendekap suasana
Sederet
tindakan hanya bernilai semu
Sebuah
apresiasi jarang terucap
Dari
bibir manisnya
Yang
terlihat hanya kekecewaan
Tuhan
tak kunjung memeberikan jiwa kesatria
Harusnya
ia tau diri
Ciptaan
setengah tulang rusuk
Mana
ada arti baginya
Pemanen
deru sanjungan orang
Tetapi
hidup tak jua terang di matanya
Timbunan
masalah mencekik batin
Kemarin
dan esok tak berbeda
Sudah
terlalu sering
Label
sampah menertawakan hidup
Yang
serba singkat ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar