Jumat, 03 Januari 2014

Buih




Dalam pijakan hangat remah tanah berhamburan
Padang pasir kelabu yang tak menyertainya
Jiwa dari sebenih bibit yang hadir
Memasuki ruang gerak kehidupan
Jemari sendu diiringi detak jantung
Mereka mnyaksikan dalam tangis risau
Semua mata memuji
Jamuan doa tiada tara mengalir
Menyelimuti tubuh mungil tak berdaya
Namun kala sang mentari murka
Bersama amuk sang papa
Menusukkan duri diantara batin
Celah hati dan sebatas mimpi itu rusak
Rasanya dunia gelap
Seperti tanpa pengharapan
Kehadirannya membawa bala nestapa
Hingga semua tulang telah membaur
Sikap dan pemikiran menyatu
Alam berbisik lirih mendekap suasana
Sederet tindakan hanya bernilai semu
Sebuah apresiasi jarang terucap
Dari bibir manisnya
Yang terlihat hanya kekecewaan
Tuhan tak kunjung memeberikan jiwa kesatria
Harusnya ia tau diri
Ciptaan setengah tulang rusuk
Mana ada arti baginya
Pemanen deru sanjungan orang
Tetapi hidup tak jua terang di matanya
Timbunan masalah mencekik batin
Kemarin dan esok tak berbeda
Sudah terlalu sering
Label sampah menertawakan hidup
Yang serba singkat ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar