Pandang di pandangi
Seisi raut muka yang telah tercabik
Terisi bekas goresan hidup
Mau di jejali ribuan peristiwa
Hatinya terkikis peliknya arus itu
Mengantarkannya pada petang
Lalu berhilir ke tepi penitihan sesal
Celurit itu mengupas habis senyum
Jemarinya mulai menggelitik
Menyerbu nada beralunkan doa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar