Malam
itu Sirius menjaring senyumku
Mataku
berlenggok menyoroti eloknya
Dadaku
kembang kempis
Merasakan
semilir angin dalam atmosfer
Kemudian
pikiran semakin merapat
Menyerbu
setiap kenangan yang hadir
Ku
rasakan….
Masalah
akan terus meranggas
Namun
ku paham
Tak
selamanya ia akan menggerogoti hidup
Menginjak
tulang yang menyangga tubuh
Hingga
remuk lebur menjadi abu
Dua
setengah hidup lenyap
Aku
terlalu diam di cemooh lisan
Mulut
orang yang meremehkan
Menyayat
jantung hingga tak berdetak
Ku
dekap Tuhan oh Tuhan
Ku
ingin lahir menjadi bayi yang suci
Tak
selalu bercengkrama dengan dosa
Aku
seperti hidup amatiran
Bahkan
dari setiap sudut tubuh
Tak
seorang pun menghargai
Waktu
terlihat menyilaukan mata
Kucuran
keringat menggeliat
Diantara
sisi kulit kecoklatan ini
Jiwaku
sudah hadir sejak dahulu
Tetapi
tubuhku seperti bala yang mengadu
Luka
terlalu sering menganga
Menyumbang
nafas yang tersungkal
Menyaksikan
jeritan hidup
Pada
waktu yang mati
Serta
jemari yang menggumam sendiri
Dalam
se pa ruh yang akan ringkih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar