Selasa, 07 Januari 2014

Pujangga Ufuk Barat




Biarkan damainya keheningan nurani
Bersemedi riang membungkam suasana
Dari sajak peluruh senyum
Tak berbuah melodi klasik kontemporer
Semuanya abstrak
Absurd menjamur jadi debu
Kala kata-kata arjuna bergeming
Potongan kulit kepercayaan itu ambigu
Dua dimensi sisi anugerah hidup
Namun mengapa masih ada campur tangan
Sisa bekas potret masa kemarin
Akankah hatinya membekas
Dalam kutipan rasa yang meranggas
Entahlah,
Figur itu menampik akan kenyataan yang hadir
Ilalang juga tak sampai sanggup menjamahnya
Risalah saat ia terjebak pada kubangan dusta
Manakala senja tak kunjung jua menyapanya
Adilkah kali ini hidup mempermainkannya
Niatan sayu harus terbalut sendu
Saat semua bercampur aduk menjadi adonan
Adonan hidup diantara masalah kalangan sebaya
Tak jua ingin tertegun berlarut pada dialog semu
Kuatkan aku mempercayainya
Dalam sepotong kasih yang tertancap akan ikrar
Walau sajakku menggumam sendiri
Antara sebuah arti kawan akrab
Lalu merajut jadi seutas hubungan ambang batas
Seandainya pula itu terjadi
Tak pernah ada peluh yang menetes
Atau sindiran cemooh akan maksut lain
Biarkan rela mengucapkan takdir yang ia temui
Berjalan ditemani aroma sepi
Mengadu lagi akan celotehan yang sama
Hingga akhirnya lahir kembali sajak –sajak
Berbau dupa duka filosofi hidup
Bagaimana cara merasuk dalam-dalam
 akan memori tak berbait
dulu pada waktu yang ceria saat semua tak sama
kami bersapa akrab saling begitu andil
namun tatkala hati mulai penuh dengan tanya
menebak goresan sajak senja yang membaur
ada apakah sebenar-benarnya terjadi
mengapa ia enggan membagikannya
untuk sekadar bahan orolan tawa kami
maka pada suatu ketika
ku dengar lirih dari tutur yang lain
katanya ia memang pernah menyentuh hatinya
tapi mengapa ia tak sadar diri
mungkin sudah ribuan kali lamanya
pujangga ufuk barat itu menelan dalam inginnya
dari sederet kalimat yang di hadirkannya
aku tau dirinya tengah megagumi sosok itu
bagaimana aku tak jua bertanya
ketika obrolan kami selalu diisi akan wujudnya
memang mendalam rasanya kecewa sekali
meluruhkan amarah pada senyum tak berdaya
namun tak pernah harus ada kata menyalahkan
karena urat nadi ini bertemu karena dia
tapi semoga pagi dan malam
ia larut dalam lembaran kalimat hidupku
dan tak pernah lagi menggantungkan senja
pada pengharapan tak berbalas kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar