Biarkan
damainya keheningan nurani
Bersemedi
riang membungkam suasana
Dari
sajak peluruh senyum
Tak
berbuah melodi klasik kontemporer
Semuanya
abstrak
Absurd
menjamur jadi debu
Kala
kata-kata arjuna bergeming
Potongan
kulit kepercayaan itu ambigu
Dua
dimensi sisi anugerah hidup
Namun
mengapa masih ada campur tangan
Sisa
bekas potret masa kemarin
Akankah
hatinya membekas
Dalam
kutipan rasa yang meranggas
Entahlah,
Figur
itu menampik akan kenyataan yang hadir
Ilalang
juga tak sampai sanggup menjamahnya
Risalah
saat ia terjebak pada kubangan dusta
Manakala
senja tak kunjung jua menyapanya
Adilkah
kali ini hidup mempermainkannya
Niatan
sayu harus terbalut sendu
Saat
semua bercampur aduk menjadi adonan
Adonan
hidup diantara masalah kalangan sebaya
Tak
jua ingin tertegun berlarut pada dialog semu
Kuatkan
aku mempercayainya
Dalam
sepotong kasih yang tertancap akan ikrar
Walau
sajakku menggumam sendiri
Antara
sebuah arti kawan akrab
Lalu
merajut jadi seutas hubungan ambang batas
Seandainya
pula itu terjadi
Tak
pernah ada peluh yang menetes
Atau
sindiran cemooh akan maksut lain
Biarkan
rela mengucapkan takdir yang ia temui
Berjalan
ditemani aroma sepi
Mengadu
lagi akan celotehan yang sama
Hingga
akhirnya lahir kembali sajak –sajak
Berbau
dupa duka filosofi hidup
Bagaimana
cara merasuk dalam-dalam
akan memori tak berbait
dulu
pada waktu yang ceria saat semua tak sama
kami
bersapa akrab saling begitu andil
namun
tatkala hati mulai penuh dengan tanya
menebak
goresan sajak senja yang membaur
ada
apakah sebenar-benarnya terjadi
mengapa
ia enggan membagikannya
untuk
sekadar bahan orolan tawa kami
maka
pada suatu ketika
ku
dengar lirih dari tutur yang lain
katanya
ia memang pernah menyentuh hatinya
tapi
mengapa ia tak sadar diri
mungkin
sudah ribuan kali lamanya
pujangga
ufuk barat itu menelan dalam inginnya
dari
sederet kalimat yang di hadirkannya
aku
tau dirinya tengah megagumi sosok itu
bagaimana
aku tak jua bertanya
ketika
obrolan kami selalu diisi akan wujudnya
memang
mendalam rasanya kecewa sekali
meluruhkan
amarah pada senyum tak berdaya
namun
tak pernah harus ada kata menyalahkan
karena
urat nadi ini bertemu karena dia
tapi
semoga pagi dan malam
ia
larut dalam lembaran kalimat hidupku
dan
tak pernah lagi menggantungkan senja
pada
pengharapan tak berbalas kasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar