Jumat, 24 Januari 2014

Permadani Paling Timur



Permadani hijau itu mengumpat
Dalam semilir keheningan pagi
Hanya terdengar celoteh burung
Melintasi pagar cakrawala
Dari sorot mentari paling timur ini
Rumpun hijau negriku masih asri
Belum banyak terjamah oleh abdi pekerti
Begitu jua orang-orangnya
Masih terbalut ritual animisme
Tapi jangan pula bilang kota ini kuno
Bahkan diantara sekat jerami loteng rumah
Ia menjadi cirri khas peradaban modern
Seandainya suatu waktu
Langkah berayunan menyusuri setapak lumpur
Lalu bersolek dengan pekat asap tungku
Sementara nafas
Sibuk kebang kempis mengikat oksigen
Ah sungguh zamrud khatulistiwa duniawi
Terletak damai di batas negeri
Namun tak banyak di sadari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar